Thursday, 26 September 2013

A Change !




Manusia sebagai hamba Allah juga dalam konteks makhluk sosial sangat sarat dengan perubahan.  Perubahan yang dimaksudkan disini tentu saja perubahan yang menjadikan pribadi lebih baik. Dalam sebuah hadist dinyatakan “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka dia beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin maka dia merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk daripada kemarin maka dia celaka”. Perubahan sangat diperlukan untuk membentuk “Manusia Baru”. Seorang manusia baru adalah sosok manusia yang utuh lagi seimbang di kehidupan ini, baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Proses perubahan sepanjang hayat manusia telah dicontohkan oleh proses metamorfosis kupu-kupu, misalnya. Perhatikanlah, semula binatang ini berupa ulat yang menggelikan, bahkan mengerikan bagi sebagian orang. Tetapi ketika ia telah menjelma menjadi kupu-kupu, jadilah kini sebagai binatang yang cantik dan bermanfaat bagi penyerbukan tanaman sehingga dapat menghasilkan buah. Seperti itulah seharusnya manusia berproses. Bagaimanapun proses itu, yang penting manusia harus sampai pada tahap  khairunnâs, yaitu hamba yang banyak menebar manfaat bagi sesama dan lingkungannya.


Untuk menjadi “Manusia Baru” kita harus segera melakukan “Manajemen Diri”. Hal tersebut sangat bermanfaat di dalam “Penyadaran Diri”.  Sehingga diri kita akan mengalami “Perubahan Perilaku”.  Perubahan perilaku adalah usaha yang sungguh-sungguh dalam merubah dan memelihara diri dari segala sesuatu yang dapat merusak kepribadian dalam rangka menjaga keutuhan kepribadian tersebut.  Perubahan perilaku merupakan tujuan utama  upaya meneladani  dalam rangka percepatan perubahan tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk berubah diantaranya adalah usia, pendidikan, kematangan (maturity), lingkungan, dan zaman. Semakin bertambah usia seseorang, dia pasti memerlukan perubahan atas dirinya. Mulai dari ketika dia balita kemudian tumbuh memasuki jenjang pendidikan SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Contohnya saja ketika kita baru lulus dari sekolah dasar dan memasuki jenjang pendidikan SMP, tentu saja kita tidak bisa lagi bersifat kekanak-kanakan. Kita mulai memasuki usia remaja dengan segala pernak-perniknya. Kemudian tumbuh menjadi dewasa, masing-masing memerlukan perubahan sesuai jenjang usia masing-masing. Faktor usia, pendidikan dan pengalaman yang ada di dalamnya akan membentuk faktor kematangan. Faktor kematangan inilah yang mendorong manusia akan dapat bersikap bijak (dewasa).
Lingkungan pun sangat berpengaruh dalam perubahan diri seseorang. Seseorang yang berpindah dari desa ke kota pasti dituntut untuk melakukan perubahan. Dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi, kebutuhan hidup, budaya hingga tingkat prestige sangat mempengaruhi seseorang tersebut untuk berubah. Ketika kita besar dalam budaya Indonesia contoh lainnya, kemudian merantau ke negeri lain mau tidak mau kita akan beradaptasi dengan budaya Negara setempat. Ketika kita merantau ke negeri kinanah ini perubahan yang kita alami tentu berbeda dengan perubahan yang teman-teman kita yang merantau ke Eropa.
Begitu juga dengan zaman yang merupakan faktor mempengaruhi seseorang untuk berubah. Seiring dengan berubahnya zaman maka kebutuhan sosial pun meningkat, teknologi yang semakin berkembang, dan budaya yang berubah. Dahulu hanya orang-orang menengah ke atas yang bisa memiliki handphone, tapi sekarang dari anak TK hingga kakek-kakek saling pamer gadget masing-masing. Dahulu tari topeng mungkin hanya dikenal di daerah Jawa Barat saja, dengan seiring berkembangnya zaman tarian tersebut sudah dikenal hingga mancanegara berkat adanya peran teknologi.
Apa saja hal-hal yang diperlukan untuk “berubah”? Hal utama yang harus sangat diperhatikan adalah keinginan yang kuat (willpower). Untuk melakukan segala sesuatu, nabi Muhammad saw telah mengajarkan pada umatnya untuk mendahului dengan niat. Apalagi untuk melakukan suatu perubahan menuju ke arah yang lebih baik, kita memerlukan suatu keinginan yang kuat dari diri kita sendiri. Kita harus memperkuat azzam untuk berubah.
Kemudian kita dapat meneladani seorang tokoh untuk menjadi pemicu perubahan kita. Kita sebagai umat muslim mempunyai uswah terbaik yaitu nabi Muhammad saw. Seperti dikisahkan, “Kami menemui Rasulullah saw bersama sejumlah perempuan untuk menjenguk beliau. Yang saat itu beliau sedang demam. Karena parahnya demam yang dirasakan beliau memerintahkan agar tempat air digantung di sebuah pohon. Lalu, beliau terlentang dibawah pohon tersebut. Hingga airnya menetes di kepala beliau” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, andaikan saja engkau berdua kepada Allah tentu Dia akan menyembuhkan engkau” Nabi saw menjawab “Sesungguhnya orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi. Kemudian orang-orang shalih setelah mereka. Lalu setelah mereka lagi” (HR Baihaqi, Ahmad, dan Thabrani dari sahabat Abu Ubaidah r.hu.)
Kita dapat meniru perilaku zuhud nabi saw untuk memotivasi kita menjadi pribadi yang lebih baik. Meskipun nabi saw  hanya dengan berdoa, mudah saja Allah akan menyembuhkan penyakit beliau, atau memenuhi segala kebutuhan beliau, tetapi nabi saw lebih memilih bersabar dan berikhtiar sebagaimana manusia pada umumnya. A good character learning bagi kita semua.
Langkah selanjutnya yang memudahkan kita untuk berubah lebih baik adalah bergaul dengan orang-orang sholih. Seperti yang telah kita bahas, lingkungan adalah faktor yang sangat mempengaruhi seseorang untuk mengalami perubahan. Aura positif dari orang-orang sholih memudahkan kita untuk berubah menjadi lebih baik. Allah swt menganugerahi kita dengan akal sehat yang dengannya kita dapat membedakan antara baik dan buruk. Dengan akal inilah kita akan menangkap aura positif dari komunitas orang-orang sholih tersebut kemudian secara tidak sadar kita akan memiliki keinginan untuk berubah.
Pengulangan (repeating) juga modal kita untuk melakukan perubahan. Setelah adanya keinginan yang kuat dari diri kita sendiri diikuti dengan bergabung dengan komunitas orang-orang sholih dan meneladani seorang tokoh maka akan membentuk suatu kebiasaan baik. Dimana kebiasaan baik ini perlu dilakukan secara istiqomah dan mudawwamah.
Apabila anda sudah memiliki semua modalnya, maka perubahan demi perubahan bakal terus terjadi. Dampak dari perubahan ini dapat dirasakan oleh siapapun yang berada disekitar kita baik langsung maupun tidak langsung. Yakni, sebuah perubahan yang membawa perwujudan “Nilai-Nilai Asasi Islam” di dalam hidup sehari-hari mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Nilai-nilai asasi Islam tersebut adalah Meng-Allah-kan Allah, Me-manusia-kan manusia, Meng-alam-kan alam; Jujur, Ikhlas, Takwa, Sabar, dan Syukur.
Maka marilah kita berubah sedikit demi sedikit menuju ke arah yang lebih baik. Berbuat baik minimal untuk diri sendiri. Kehidupan dunia adalah kumpulan dari perubahan-perubahan pribadi. So, be a better human, be a human elyon. (kiki/ar)


0 komentar:

Post a Comment