Manusia
sebagai hamba Allah juga dalam konteks makhluk sosial sangat sarat dengan
perubahan. Perubahan yang dimaksudkan
disini tentu saja perubahan yang menjadikan pribadi lebih baik. Dalam sebuah
hadist dinyatakan “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin maka
dia beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin maka dia merugi.
Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk daripada kemarin maka dia celaka”.
Perubahan sangat diperlukan untuk membentuk “Manusia Baru”. Seorang manusia
baru adalah sosok manusia yang utuh lagi seimbang di kehidupan ini, baik yang bersifat
jasmani maupun rohani. Proses perubahan sepanjang hayat manusia telah
dicontohkan oleh proses metamorfosis
kupu-kupu, misalnya. Perhatikanlah, semula binatang ini berupa ulat yang
menggelikan, bahkan mengerikan bagi sebagian orang. Tetapi ketika ia telah
menjelma menjadi kupu-kupu, jadilah kini sebagai binatang yang cantik dan
bermanfaat bagi penyerbukan tanaman sehingga dapat menghasilkan buah. Seperti
itulah seharusnya manusia berproses. Bagaimanapun proses itu, yang penting
manusia harus sampai pada tahap khairunnâs, yaitu hamba yang banyak menebar
manfaat bagi sesama dan lingkungannya.
Untuk menjadi “Manusia
Baru” kita harus segera melakukan “Manajemen
Diri”. Hal tersebut sangat
bermanfaat di dalam “Penyadaran
Diri”. Sehingga diri kita akan mengalami “Perubahan
Perilaku”. Perubahan perilaku adalah
usaha yang sungguh-sungguh dalam merubah dan memelihara diri dari segala sesuatu
yang dapat merusak kepribadian dalam rangka menjaga keutuhan kepribadian
tersebut. Perubahan perilaku merupakan
tujuan utama upaya meneladani dalam rangka percepatan perubahan tersebut.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi seseorang untuk berubah diantaranya adalah usia, pendidikan,
kematangan (maturity), lingkungan, dan zaman. Semakin bertambah usia
seseorang, dia pasti memerlukan perubahan atas dirinya. Mulai dari ketika dia
balita kemudian tumbuh memasuki jenjang pendidikan SD, SMP, SMA, hingga
perguruan tinggi. Contohnya saja ketika kita baru lulus dari sekolah dasar dan
memasuki jenjang pendidikan SMP, tentu saja kita tidak bisa lagi bersifat
kekanak-kanakan. Kita mulai memasuki usia remaja dengan segala
pernak-perniknya. Kemudian tumbuh menjadi dewasa, masing-masing memerlukan
perubahan sesuai jenjang usia masing-masing. Faktor usia, pendidikan dan
pengalaman yang ada di dalamnya akan membentuk faktor kematangan. Faktor
kematangan inilah yang mendorong manusia akan dapat bersikap bijak (dewasa).
Lingkungan pun
sangat berpengaruh dalam perubahan diri seseorang. Seseorang yang berpindah
dari desa ke kota pasti dituntut untuk melakukan perubahan. Dengan tingkat
kedisiplinan yang tinggi, kebutuhan hidup, budaya hingga tingkat prestige sangat
mempengaruhi seseorang tersebut untuk berubah. Ketika kita besar dalam budaya
Indonesia contoh lainnya, kemudian merantau ke negeri lain mau tidak mau kita
akan beradaptasi dengan budaya Negara setempat. Ketika kita merantau ke negeri
kinanah ini perubahan yang kita alami tentu berbeda dengan perubahan yang
teman-teman kita yang merantau ke Eropa.
Begitu juga
dengan zaman yang merupakan faktor mempengaruhi seseorang untuk berubah.
Seiring dengan berubahnya zaman maka kebutuhan sosial pun meningkat, teknologi
yang semakin berkembang, dan budaya yang berubah. Dahulu hanya orang-orang
menengah ke atas yang bisa memiliki handphone, tapi sekarang dari anak
TK hingga kakek-kakek saling pamer gadget masing-masing. Dahulu tari
topeng mungkin hanya dikenal di daerah Jawa Barat saja, dengan seiring
berkembangnya zaman tarian tersebut sudah dikenal hingga mancanegara berkat
adanya peran teknologi.
Apa saja
hal-hal yang diperlukan untuk “berubah”? Hal utama yang harus sangat
diperhatikan adalah keinginan yang kuat (willpower). Untuk
melakukan segala sesuatu, nabi Muhammad saw telah mengajarkan pada umatnya
untuk mendahului dengan niat. Apalagi untuk melakukan suatu perubahan menuju ke
arah yang lebih baik, kita memerlukan suatu keinginan yang kuat dari diri kita
sendiri. Kita harus memperkuat azzam untuk berubah.
Kemudian kita
dapat meneladani seorang tokoh untuk menjadi pemicu perubahan kita. Kita
sebagai umat muslim mempunyai uswah terbaik yaitu nabi Muhammad saw. Seperti
dikisahkan, “Kami menemui Rasulullah saw bersama sejumlah perempuan untuk menjenguk
beliau. Yang saat itu beliau sedang demam. Karena parahnya demam yang dirasakan
beliau memerintahkan agar tempat air digantung di sebuah pohon. Lalu, beliau
terlentang dibawah pohon tersebut. Hingga airnya menetes di kepala beliau” Aku
berkata, “Wahai Rasulullah, andaikan saja engkau berdua kepada Allah tentu
Dia akan menyembuhkan engkau” Nabi saw menjawab “Sesungguhnya orang yang
paling berat ujiannya adalah para nabi. Kemudian orang-orang shalih setelah
mereka. Lalu setelah mereka lagi” (HR Baihaqi, Ahmad, dan Thabrani dari
sahabat Abu Ubaidah r.hu.)
Kita dapat
meniru perilaku zuhud nabi saw untuk memotivasi kita menjadi pribadi yang lebih
baik. Meskipun nabi saw hanya dengan
berdoa, mudah saja Allah akan menyembuhkan penyakit beliau, atau memenuhi
segala kebutuhan beliau, tetapi nabi saw lebih memilih bersabar dan berikhtiar
sebagaimana manusia pada umumnya. A good character learning bagi kita
semua.
Langkah
selanjutnya yang memudahkan kita untuk berubah lebih baik adalah bergaul
dengan orang-orang sholih. Seperti yang telah kita bahas, lingkungan adalah
faktor yang sangat mempengaruhi seseorang untuk mengalami perubahan. Aura
positif dari orang-orang sholih memudahkan kita untuk berubah menjadi lebih
baik. Allah swt menganugerahi kita dengan akal sehat yang dengannya kita dapat
membedakan antara baik dan buruk. Dengan akal inilah kita akan menangkap aura
positif dari komunitas orang-orang sholih tersebut kemudian secara tidak sadar
kita akan memiliki keinginan untuk berubah.
Pengulangan (repeating) juga modal kita untuk melakukan
perubahan. Setelah adanya keinginan yang kuat dari diri kita sendiri diikuti
dengan bergabung dengan komunitas orang-orang sholih dan meneladani seorang
tokoh maka akan membentuk suatu kebiasaan baik. Dimana kebiasaan baik ini perlu
dilakukan secara istiqomah dan mudawwamah.
Apabila anda sudah memiliki semua modalnya, maka perubahan demi
perubahan bakal terus terjadi. Dampak dari perubahan ini dapat dirasakan oleh
siapapun yang berada disekitar kita baik langsung maupun tidak langsung. Yakni,
sebuah perubahan yang membawa perwujudan “Nilai-Nilai Asasi Islam” di dalam
hidup sehari-hari mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Nilai-nilai asasi
Islam tersebut adalah Meng-Allah-kan Allah, Me-manusia-kan manusia,
Meng-alam-kan alam; Jujur, Ikhlas, Takwa, Sabar, dan Syukur.
Maka marilah kita berubah sedikit demi sedikit menuju ke arah yang
lebih baik. Berbuat baik minimal untuk diri sendiri. Kehidupan dunia adalah
kumpulan dari perubahan-perubahan pribadi. So, be a better human, be a human
elyon. (kiki/ar)


0 komentar:
Post a Comment