Melihat gejolak perpolitikan Mesir dewasa ini, Dewan Pengurus SEMA-FSI (DP
SEMA FSI) terdorong untuk membahas peta perpoltikan dalam perspektif syariah. Maka, pada hari
Rabu (23/10) SEMA-FSI mengadakan Kajian Eksternal untuk seluruh Masisir yang
bertempat di Baruga KKS dengan tema “PerpolitikanMesirPasca Mubarak hingga Lengsernya
Mursi dalam Perspektif Siyaasah Syar’iyyah”.
Dengan pembicara Ust.Hasbullah, Lc kajian terasa semakin berisi, mengingat beliau adalah mahasiswa syariah sekaligus anggota Dewan Konsultatif SEMA FSI 2013/2014.
Dengan pembicara Ust.Hasbullah, Lc kajian terasa semakin berisi, mengingat beliau adalah mahasiswa syariah sekaligus anggota Dewan Konsultatif SEMA FSI 2013/2014.
Dalam makalah yang dibagikan, pembicara mengupas tentang dua persoalan:
1 1) Bagaimanakah konsep Negara Islam?
2 2) Pelengseran Dr. Muhammad Mursi anatara kudeta dan kehendak rakyat, serta berbagai rentetan peristiwa setelahnya menurut pandangan ulama
Untuk mejawab persoalan yang pertama, pembicara menerangkan bahwasannya Negara dalam bahasa arab adalah daulah, yang mana secara etimologi berarti pergeseran makna dari satu kondisi kekondisi lainnya. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam surat Ali Imraan ayat 140 yang artinya;
“…Dan masa (kejayaan dankehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…”
Selebihnya, pembicara menggambarkan landasan kehidupan bernegara yang dibangun Rasulullah Saw. di Madinah sebagai contoh dari konsep Negara Islam yang ideal.
Untuk menjawab pertanyaan yang kedua, pembicara lebih mendalaminya dalam konteks fikih dan bagaimana cara untuk menyikapi ikhtilaf ulama. Pembicara menyatakan bahwa kajian fikih sangat menarik, karena para ulama dewasa ini dalam menyikapi sengketa politik di Mesir dengan segala perbedaan pendapat.
Di akhir pemaparan, pembicara menarik beberapa kesimpulan. Diantaranya adalah, melihat banyaknya perbedaan pendapat para ulama dalam menyikapi peristiwa politik yang terjadi di Mesir akhir-akhir ini, maka kita sebagai seorang penuntut ilmu, menyikapi perbedaan pendapat itu sebagai sesuatu yang sangat wajar. Namun dalam perbedaan ini semestinya kita harus tetap menjaga adab, sikap dan perkataan. Baik kepada sesama penuntut ilmu maupun kepada guru-guru kita. Jangan sampai perbedaan furu’ menjadi pemisah jarak dan pemecah diantara kita sebagai umat Islam. Karena luka pertengangan akibat perbedaan sudah cukup lama membuat Islam terbelakang dan terpuruk diberbagai lini kehidupan.
Semoga Allah Swt. memberkahi kita dalam segala perbedaan yang ada, karena perbedaan adalah rahmat. Juga semoga segala ilmu yang telah kita dapat bisa bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun bagi umat.
Reporter : Zakiah Rahmah
Editor : Zaky Al Rasyid




0 komentar:
Post a Comment